home picture
home
home luxuri
luxuri
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Monday, April 19, 2010

TEH BOTOL SOSRO DAN KAMPANYE HIJAU

picture courtesy of: mata pelangi


Well, recently I read SWA magazine. Di sana tertulis kalau teh botol Sosro telah menjadi warisan budaya dan mungkin bisnis serta gaya hidup orang Indonesia. Menurut SWA, tbSosro berhasil membawa gaya baru dalam minum teh. Dari sebelumnya teh seduh menjadi teh siap minum. Ya di seluruh dunia memang teh botol siap minum sepertinya memang ditemukan di Indonesia. Dan yang menjadi kebanggaan adalah penjualan teh botol Sosro di Indonesia sempat mengalahkan penjualan Coca Cola. Hebat bukan? Meski rekor ini sudah saya ketahui sejak lama, tapi saya diingatkan kembali. Dan rasanya nasionalisme ini timbul kembali membaca apa yang sudah dicapai oleh teh botol Sosro. Tak perlu upacara mengerek bendera tinggi-tinggi.



Saya sih baru terbuka mata soal bagaimana jalur distribusi dan sistem isi ulang dengan botol kaca yang digunakan oleh teh botol Sosro.



Ada begitu banyak minuman baik teh atau bukan yang didesain dengan menggunakan tetra pack, sehingga kita bisa membawa dan langsung meminum dan membuang kemasannya. Memang lebih praktis. Jauh lebih praktis malah. Tapi yang menjadi keprihatinan saya adalah rancangan dengan kemasan tetra pack itu rasanya sangat tidak berwawasan ulang. Bayangkan berapa banyak sampah yang dihasilkan setelah kita membuang kemasan dari minuman yang kita minum? Saya tidak bermaksud menyudutkan produsen tetra pack. Pada satu titik kita tetap membutuhkan kemasan tetra pack.



Saya sendiri tidak dapat menghitung perbandingan antara seberapa jauh polusi yang dihasilkan dengan sistem isi ulang dengan sistem sekali pakai buang. Karena untuk sistem isi ulang diperlukan jalur distribusi yang kuat. Itu berarti penggunaan kendaraan yang lebih banyak menghabiskan bahan bakar yang mana juga mengakibatkan emisi gas buang karbon yang tinggi.



Tetapi jika saya telaah, dari hadapan mata saja sudah terlihat mana yang lebih menghasilkan sampah. Bisa saja kemasan tetra pack didaur ulang menjadi produk lain. Tapi rasanya dengan penggunaan botol kaca yang dipakai berulang kali jauh lebih baik ketimbang mendaur ulang menjadi produk baru. Karena belum tentu produk baru tersebut bisa didaur ulang lagi. Sementara botol kaca yang jika pecah tentu masih bisa didaur ulang kembali menjadi botol juga.



Saat dimana orang mengumandangkan kampanye hijau, entah mengapa tidak dikampanyekan penggunaan botol kaca dan sistem isi ulang sebagai bagian dari promosi? Dulu label kosmetik seperti Body Shop pada awal kehadirannya di Indonesia sempat mengkampanyekan sistem isi ulang. Tapi entah bagaimana sekarang kelanjutannya. Mungkin penggunaan botol plastik dirasa tidak begitu memungkinkan. Atau isu perempuan dan KDRT dirasa penting untuk diangkat.



Aqua menggunakan sistem isi ulang untuk galon. Sayangnya penggunaan kemasan botol/gelas plastik masih jauh lebih tinggi. Memang hal ini disesuaikan dengan konsepnya untuk, fungsi, kepraktisan dan pangsa pasar.



Saat ini juga di warung/toko kelontong tradisional kita masih bisa membeli Coca Cola ukuran besar dalam kemasan botol kaca dengan sistem isi ulang. Tapi rasanya semakin lama, semakin ke tengah kota, yang dijual di minimarket modern maupun hiper/supermarket lebih banyak yang terbuat dari plastik. Memang sistem isi ulang jauh merepotkan dikarenakan harus menyediakan ruang untuk menyimpan botol2 kosong sebelum dibawa kembali ke pabrik.

Semestinya penggunaan sistem isi ulang ini bisa diterapkan pada barang-barang kebutuhan sehari-hari, hanya saja masih dirasa tidak praktis dan tidak ekonomis sehingga tidak menjadi satu keputusan bulat.



Tapi rasanya kampanye hijau tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja. Produsen sudah berusaha untuk mengurangi sampah dengan menggunakan sistem isi ulang. Konsumen perlu disadarkan dengan kampanye terus menerus untuk gaya hidup yang lebih berwawasan lingkungan. Sementara pengecer sendiri perlu untuk melakukan usaha mendukung apa yang sudah dikerjakan oleh produsen dan konsumen selain mengurangi penggunaaan kantong belanja dari plastik.

Saturday, April 10, 2010

LAYAR, KACA SPION & TELEVISI LAYAR DATAR

Sekitar 6 bulan yang lalu saya memutuskan untuk membeli motor secara kredit untuk membantu mobilitas saya. Setelah mengendarai motor saya kemudian baru menyadari ada yang salah dengan kaca spion saya. Sebelumnya di tahun 2005 saya juga pernah mengendarai motor fasilitas dari kantor tempat saya bekerja dulu. Tapi saya sendiri tidak begitu memperhatikan kondisi kaca spion sepeda motor yang saya gunakan saat itu. 

Saat saya masih kanak-kanak saya masih ingat ketika saya bersama orang tua mengendarai sepeda motor Honda di awal dekade 80-an. Seingat saya kaca spion saat itu menggunakan kaca cermin cembung. Seperti halnya di mobil. Tapi nampaknya saat ini kebanyakan kaca spion menggunakan cermin datar bukan cembung. 

Saya tidak tahu atas pertimbangan apa produsen motor memutuskan untuk menggunakan cermin datar daripada cermin cembung. Apakah karena lebih ekonomis sehingga dapat menekan harga jual mobil dan motor.

Saat menggunakan cermin datar saya menyadari -entah mungkin saya yang salah atau memang sudah seharusnya seperti ini- ada blind spot atau area di samping motor yang sangat dekat yang justru tidak tertangkap oleh cermin datar pada kaca spion. Jadi seringkali saat harus berbelok atau mengambil jalur baru saya -dan saya perhatikan pengendara motor lainnya juga- harus secepat kilat menoleh ke samping belakang untuk memastikan tak ada kendaraan di samping motor. Sebenarnya hal ini agak menyulitkan karena harus memastikan posisi kendaraan di depan juga tidak terlalu dekat sehingga bisa tertabrak saat menoleh ke belakang.

Seandainya menggunakan cermin cembung tentu gerakan menoleh ke belakang ini tidaklah terlalu perlu. Permukaan cembung tentu akan membuat situasi kondisi yang tertangkap di bidang cermin akan lebih luas. Tetapi menggunakan cermin cembung bukan berarti tanpa masalah. Cermin cembung membuat jarak yang sempit terlihat lebih besar. Sehingga jika kita kurang perhitungan tentu juga bisa terjadi terserempet kendaraan lain karena kita mengira jarak antara motor dengan kendaraan lain masih jauh.

Berbicara soal cermin cembung tentu terkait dengan pembiasan. Saya juga agak heran dengan begitu populernya televisi layar datar dan tipis. Saya bukan anti dengan yang televisi gemuk. Saya juga tidak mengerti mengapa televisi plasma atau LCD didesain dengan bentuk yang populer dengan sebutan wide. Apa karena langsing maka untuk menyeimbangkan bentuknya harus dibuat melebar ke samping? Atau ada pengaruh langsung dari penempatan LED di layar televisi yang membuat desainnya harus lebar. 

Kalau saya pribadi lebih menyukai proporsi tinggi dan lebar dari televisi yang gemuk tempo dulu. 

Bukan apa-apa, televisi layar lebar menurut saya membuat tampilan gambar jadi distorsi. Orang terlihat lebih lebar, lebih gemuk, juga lebih pendek. Bangunan terlihat lebih lebar dan lebih pendek. Entah mungkin semakin kini, bisa jadi mungkin hal itu teratasi. Tapi rasanya saya belum melihat perkembangan berarti mengatasi distorsi proporsi tampilan gambar itu. 

Padahal efek sampingnya juga ada lho. Meski lebih banyak terpapar pada mereka yang sering tampil di layar televisi. Kamera membuat penampilan seseorang terlihat 5kg lebih berisi. Sementara televisi layar lebar membuat penampilan seseorang terlihat 10kg lebih lebar dan berisi. Ditotal jadi 15 kg. Tak heran jika banyak bintang merasa dirinya gemuk dan terjerat dalam kelainan seperti bullimia dan anorexia. Mungkin mereka melihat proyeksi diri mereka di televisi layar datar nan lebar terlihat jauh lebih gemuk sehingga membuat mereka menjadi paranoid.